Senin, 11 Januari 2010

PLTU Paiton

Sudah tau pemandangan PLTU di Paiton... woww.... indah nian.. seperti kota dibawah bukit.. padahal kalo disiang hari yang terlihat hanya pabriik. Tapi jangan salah dimalam hari, ditemanin dengan jagung bakar.. tidak akan bosan melihatnya..
Salah satu tempat istirahat sekaligus wisata malam bagi para pemudik di jalur pantura, yakni kawasan puncak pembangkit listrik, PLTU Paiton Probolinggo, Jawa Timur. Senin (21/9/2009), selain bisa melihat dari dekat proyek PLTU juga pada malam hari gemerlap lampu lampu, menghiasi setiap sudut gedung proyek tersebut. Suasana malam hari kawasan puncak PLTU yang ada di Paiton, tepatnya di jalur Pantura perbatasan Probolinggo – Situbondo, memang menarik. Bagi para pemudik yang melewati jalur ini, kurang lengkap rasanya jika tidak singgah dulu di tempat tersebut. Sebab, selain bisa melepas lelah dengan leluasa karena parkir kendaraan yang luas, juga para pengunjung bisa melihat dari dekat suasana megah proyek PLTU Paiton ini. Bahkan kalau pada malam hari, suasana tambah meriah dengan gemerlap lampu lampu yang menerangi setiap sudut gedung proyek tersebut. Hal ini yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para pemudik yang datang. Para pengunjung yang melepas lelah disini hanya di tarik retribusi parkir sebesar Rp 1000, untuk kendaraan roda empat dan Rp 500 untuk sepeda motor. Untuk jajanan dan makanan, para penjaja juga menyediakan dengan harga yang cukup dengan kantong anda, mata anda akan dimanjakan dengan kemegahan proyek PLTU Paiton dengan bertabur cahaya lampu di lokasi proyek. Paling banyak digemari biasanya jagung bakar dengan aneka rasa.

Gili Island

Probolinggo juga ada pulau kecil yang tidak masuk dalam peta, karena pulau tersebut berjalan mengikuti arus laut. Kadang mendekati pelabuhan probolinggo, kadang mendekati pantai bentar.

Wisata Probolinggo, Gili Ketapang merupakan sebuah pulau yang indah terletak 5 Mil dilepas pantai utara Probolinggo atau 30 menit perjalanan naik perahu motor dari Pelabuhan Tanjung Tembaga. Dibagian timur dan selatan pulau membentang pantai pasir putih, lautnya belum tercemar nampak kebiru-biruan. Saat lautnya tenang, pengunjung bisa berenang dan menyelam melihat bunga karang yang indah dan ikan hias yang berwarna-warni. Pulau seluas 68 ha di huni 7.600 jiwa, sebagian besar warganya suku Madura dan hampir 90% menjadi nelayan yang menggantungkan hidupnya di laut Keunikan lain adalah kepercayaan masyarakat setempat tentang asal-usul nama Gili Ketapang, bahwa pulau ini memiliki tenaga gaib yang bergerak lamban ke tengah laut. Semula pulau ini menjadi satu dengan daratan Desa Ketapang. Ketika Gunung Semeru meletus terjadilah gempa bumi yang sangat dahsyat sehingga sebagian daratan Desa Ketapang terpisah ketengah laut sekitar 5 Mil dari Kota Probolinggo. Sebagian daratan menjadi sebuah pulau yang bergerak. Oleh sebab itu masyarakat setempat menyebut pulau tersebut dengan nama Gili Ketapang yang berasal dari bahasa Madura yang artinya mengalir sedangkan Ketapang adalah nama asal desanya. Jika hari sedang ramai, tak kurang tiap 15 menit kapal akan beranjak dari pelabuhan menuju Pulau Gili Ketapang. Setelah perjalanan kurang lebih 30 menit, Anda juga akan menemukan keindahan pemandangan dasar laut yang tersaji begitu jelas di dasar perairan. Batu karang beserta biota laut dapat dinikmati dengan mata telanjang. Maklum, perairan di sekitar Pulau Gili Ketapang masih terbebas dari polusi. Keberadaan Gua Kucing yang dikeramatkan menjadi salah satu alasan bagi pengunjung untuk datang. Menurut cerita yang berkembang, tempat ini sebenarnya merupakan petilasan Syech Ishap, seorang penyebar agama Islam, yang pernah singgah dalam perjalanan dari Gresik menuju Blambangan, Banyuwangi. Mengapa dinamakan Gua Kucing? Konon karena di gua yang pernah disinggahi Syech Ishaq ini hidup ribuan kucing. Seekor di antaranya bertuliskan Arab di kepalanya. Ketika tokoh tersebut meninggalkan pulau ini, populasi kucing ikut berkurang. Anehnya, setiap malam Jumat Legi suara "meong" terdengar di sela-sela gua. Namun, setelah didekati, suara itu menghilang. Karena dianggap keramat, tak heran setiap malam Jumat Legi atau 1 Muharam (Suro), banyak orang berkunjung untuk sekadar berdoa atau beribadah di sebuah musala di samping gua.

Lovely Mountain... Bromo


Gunung Bromo merupakan salah satu primadona wisata Kabupaten Probolinggo. Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut, dengan bentuk tubuh yang bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi, tertutup hamparan butiran pasir halus. Kondisi oksigen yang sangat tipis dengan jaraknya dari kota Probolinggo yang masih lumayan jauh sekitar 40KM. Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedang daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo. Apabila pagi hari ketika matahari terbit, kawasan lautan pasir inipun terselimuti dengan awan putih yang sangat indah apabila dilihat dari bukit-2 sekitarnya misalkan dari Cemoro Lawan maupun Penanjakan. Meniti tangga menuju puncak Gunung Bromo untuk menyaksikan terbitnya matahari bukan suatu hal yang terlalu berlebihan. Namun bermain-main dibibir kepundan yang menganga kemudian merayap turun menjejakkan kaki telanjang pada magma beku untuk mengukir nama kemudian mengabadikannya, barangkali hanya bisa dilakukan di Bromo tidak ditempat lain. Pintu gerbang utama menuju ke Laut Pasir dan Gunung Bromo melalui Cemorolawang. Kawasan ini merupakan daerah wisata yang paling ramai terutama pada hari libur. Beberapa aktivitas  dapat dilakukan di daerah ini antara lain : berkemah, menikmati pemandangan alam, berkuda menuju Lautan Pasir atau berjalan kaki. Untuk mencapai puncak Gunung Bromo dapat menaiki tangga yang telah disediakan. Kawah Gunung Bromo merupakan kawah yang menganga lebar dengan kepulan asap yang keluar dari dasar kawah menandakan bahwa gunung tersebut masih aktif. 

beautiful waterfall in Probolinggo is Madakaripura

Kawasan wisata Gunung Bromo ternyata menyimpan satu lokasi wisata yang unik dan menawan. Lokasinya tidak jauh dari lautan pasir Bromo, hanya sekitar 45 menit ke arah Probolinggo (ke Utara). Namanya adalah air terjun Madakaripura. Menurut penduduk setempat nama ini diambil dari cerita pada jaman dahulu, konon Patih Gajah Mada menghabiskan akhir hayatnya dengan bersemedi di air tejun ini. Selanjutnya kita harus berjalan kira-kira 15 menit, melewati jalan setapak terbuat dari semen yang berbatu sehingga kalau basah tidak akan licin. Saat berjalan kaki ini kita juga disuguhi pemandangan indah dan menyejukkan, di samping kanan kita ada aliran sungai berbatu-batu, di kanan kiri kita diapit tebing tinggi dengan pepohonan lebat beserta iringan kicauan burung dan derikan kumbang. Terkadang di beberapa bagian jalan, terhalang oleh pohon rubuh atau ada bekas longsoran, meskipun demikian jalan ini relatif datar dan dapat dijalani dengan mudah, kalau kecapekan ada beberapa tempat di sepanjang jalan yang bisa digunakan untuk duduk-duduk beristirahat.. Air terjun ini berawal dari air yang mengalir dari tebing memanjang dan membentuk tirai, sehingga kita bisa berpayung ria berjalan di bawahnya. Di ujungnya, kita akan bertemu dengan sebuah ruangan berbentuk lingkaran berdiameter kira-kira 25 meter. Berdiri di dalam ruangan alam ini kita akan merasa seolah berada di dasar sebuah tabung, dimana terdapat air terjun dengan ketinggian sekitar 200 meter, dengan limpahan air yang jatuh dengan derasnya dari atas dan berubah menjadi selembut kapas ke kolam berwarna kehijauan. Air yang jatuh di kolam ini menimbulkan bunyi yang berirama, terkadang bunyi yang ditimbulkannya lebih keras dikarenakan air yang jatuh lebih deras. Keunikan dan kesejukan air terjun ini membuat kita betah berlama-lama memandanginya.Lokasi Madakaripura berada 620 meter diatas permukaan air laut dan terletak di kawasan tengger tidak jauh dari Bromo tepatnya di Desa Sapih, Kecamatan Lumbang, agaknya alam menempatkan Madakaripura sebagai pelengkap Bromo.